Tulisan ini bukan untuk mengungkit perpecahan dimasa lalu, namun pelajaran bagi kita semua untuk bersatu dan menghindari pertumpahan darah satu agama, satu bangsa, demi persatuan dan kesatuan negara indonesia.
Bagi yang paham silsilah, sungguh kerajaan mataram dan madura sebenarnya masih keluarga dekat, yakni sama-sama berdarah majapahit. bahkan di kemudian hari terjadi kekerabatan yang sangat kuat dengan pernikahan antara banyak keluarga dari masing masing pihak. Salam silaturahmi.
Bagi yang paham silsilah, sungguh kerajaan mataram dan madura sebenarnya masih keluarga dekat, yakni sama-sama berdarah majapahit. bahkan di kemudian hari terjadi kekerabatan yang sangat kuat dengan pernikahan antara banyak keluarga dari masing masing pihak. Salam silaturahmi.
inilah cuplikan kisahnya.
Pada suatu ketika, karena Pangeran
Ronggosukowati usianya telah lanjut, maka mahkota kerajaan Pamekasan
diserahkan kepada anak selirnya, yaitu Pangeran Purbaya. Pada saat itu
putra mahkota telah ada, namun belum cukup umur untuk dinobatkan menjadi
raja. Meski demikian, ia masih bersedia menjadi penasihatnya. Peristiwa
alih kekuasaan dalam keraton Pamekasan ini terjadi pada tahun 1615.
Beberapa tahun sebelum Pamekasan
berganti kepemimpinan, tepatnya pada tahun 1613, Sultan Agung bertahta
di Keraton Mataram. Sultan Agung memiliki ambisi untuk memperluas
wilayah kekuasaannya. Selain memperluas daerah kekuasaan, Sultan Agung
juga ingin mengusir pasukan Belanda dari bumi Nusantara. Pencapaian
Kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung antara lain dengan
menaklukkan wilayah Kalimantan pada tahun 1622 dan menduduki wilayah
Madura pada tahun 1624.
Kegagalan Kerajaan Mataram Menyerang Pulau Madura
Para penguasa di Madura masih merupakan
satu keluarga. Oleh karena itu mereka bersatu padu dalam menghadapi
pasukan Mataram. Pangeran Ronggosukowati meskipun sudah berusia lanjut,
masih turun ke medan perang untuk mendampingi putranya berperang.
Pangeran Ronggosukowati berperan memberi petunjuk-petunjuk kepada
pasukan Pamekasan yang akan bergabung dengan pasukan Sumenep, Madegan,
Blega, Arosbaya dan Kadipaten Mlojo.
Pada tahun 1624 Kerajaan Mataram
mengirim 50.000 pasukan untuk mendarat di pantai barat pesisir Bangkalan.
Pasukan perang Kerajaan Mataram dipimpin oleh Panglima Perang Pangeran
Suyono dan Pangeran Slorong. Oleh karena itu, 6.000 prajurit Madura
mengadakan perlawanan. Pertempuran berlangsung dengan sengit. Pangeran
Suyono, Pangeran Slorong dan 16 orang pemimpin pasukan Mataram gugur.
Saat mendapati kenyataan bahwa pemimpin
perang mereka telah tewas, maka pasukan Mataram mundur sambil membawa
jenazah para pemimpinnya ke tengah laut. Dari tempat ini mereka
mengirimkan utusan untuk melaporkan kepada Sultan Agung di pusat
Pemerintahan Kerajaan Mataram. Sultan Agung sangat berang saat mendengar
bahwa kedua panglima perang andalan Mataram terbunuh dalam pertempuran
dengan pasukan Madura yang banyaknya 6.000 orang.
Keraton Mataram Mengirim Panglima Juru Kiting Untuk Menaklukkan Madura
Untuk membalas kekalahan itu, Sultan
Agung memerintahkan kepada panglima perang yang sudah berusia lanjut
bernama Panglima Juru Kiting. Panglima Juru Kiting terkenal dengan
julukan Macan Mataram. Panglima Juru Kiting memang secara fisik sudah
tua namun kemampuannya dalam menghadapi musuh masih bisa diandalkan.
Dalam peristiwa penyerangan Madura itu
Juru Kiting tidak kenal ampun. Sengaja beliau dikirim bersama ribuan
pasukan Mataram. Pasukan perang Mataram dibawah pimpinan Panglima Juru
Kiting bergabung dengan sisa-sisa pasukan Mataram yang berada di tengah
lautan untuk menaklukkan Madura.
Pada tahun 1624, Panglima Juru Kiting
bersama pasukannya mendarat di pantai Madura Barat. Meraka akan membalas
kematian rekan-rekannya yang gugur pada tahun 1923. Untuk itu, ia tidak
langsung melakukan serangan. Panglima Juru Kiting menyebarkan mata-mata
terlebih dulu. Pada saat itu, pasukan Madura yang semula bersatu,
ternyata menjaga daerahnya masing-masing sehingga Panglima Juru Kiting
lebih mudah menghadapi mereka.
Pada artikel sebelumnya telah
diceritakan awal mula serangan Kerajaan Mataram ke Madura. Dalam
pertempuran yang dahsyat di Madura barat, kedua pihak mengalami banyak
kerugian, baik jiwa maupun harta. Akhirnya, serangan pasukan Mataram
yang kekuatannya berlipat ganda itu tidak dapat ditahan oleh pasukan
Madura barat. Adipati Mlojo terbunuh di medan perang. Adipati Blega
melarikan diri tetapi kemudian ia tertangkap pasukan Mataram dan dibunuh
di Jurang Rejo. Pangeran Mas Raja di Arosbaya melarikan diri ke Banten.
Oleh Sultan Banten, ia diserahkan kepada Sultan Agung di Mataram
kemudian dibunuh.
Pasukan Sumenep mempertahankan diri
dengan keberanian yang tiada tandingannya. Karena musuh yang dihadapinya
itu sangat besar, maka banyak pasukannya yang gugur. Untuk mensiasati
keadaan ini, Raja Sumenep Raden Abdullah yang bergelar Pangeran
Cokronegoro I, yaitu menantu Pangeran Ronggosukowati, pergi melaporkan
kepada keturunan Sultan Demak. Namun malang nasibnya, sesampai di Palakaran
Sampang, Pangeran Cokronegoro I ditangkap dan dibunuh oleh pasukan
Mataram.
Sedangkan Raden Bugan, yaitu putranya
yang masih berumur 3 tahun sempat dilarikan dan kemudian diserahkan
kepada Sultan Cirebon oleh pengikutnya. Raden Bugan dikirimkan ke
Mataram untuk diberi pelajaran adat istiadat keraton. Pada akhirnya,
Raden Bugan diperintahkan ke Sumenep untuk menduduki jabatan Bupati
disana.
Perang Puputan Menghabisi Riwayat Keluarga Kerajaan Madura
Di Pamekasan, Juru Kiting mendapat
perlawanan hebat dari pasukan yang dibentuk oleh Pangeran
Ronggosukowati. Dalam pertempuran mereka tak mengenal mundur walau
selangkahpun. Para prajurit pria di depan, sedang para wanitanya di
belakang. Sebab bila ada pria di belakang, maka ia berarti lari dari
medan perang. Untuk itu, wanita yang ada di belakangnya segera
membunuhnya. Seluruh rakyat ikut berjuang dengan ketat, lebih baik mati
daripada hidup di jajah.
Rakyat Keraton Pamekasan pantang mundur
walaupun kekuatan musuhnya berlipat ganda. Dalam pertempuran itu,
diantara mereka banyak yang gugur, termasuk Pangeran Ronggosukowati
beserta para isterinya, Pangeran Purbaya, Pangeran Jimat serta para abdi
keraton. Oleh karena itu, peristiwa penyerangan pasukan Mataram ke
Pamekasan disebut juga Perang Habis-habisan yang dalam bahasa Jawa sama
artinya dengan puputan. Dengan demikian, perang besar di Madura ini
dikenal juga dengan Perang Puputan.
Raden Praseso Menjadi Penguasa Kerajaan Madura
Pada waktu itu, semua penguasa Madura
gugur karena serangan dari Kerajaan Mataram. Satu-satunya keturunan Raja
Madura yang masih hidup selain Raden Bugan adalah Raden Praseso yang
masih di bawah umur. Raden Praseso dibawa dan diserahkan oleh Panglima
Juru Kiting kepada Sultan Agung di Mataram. Ia diambil sebagai anak
angkat, kemudian setelah dewasa diambil menantu. Perkawinan Raden
Praseso dengan putri Sultan Agung tidak berjalan lama karena isterinya
meninggal dalam usia muda sebelum memiliki anak.
Raden Praseso pada akhirnya diangkat
Sultan Agung menjadi Raja Madura dengan gelar Pangeran Cakraningrat I.
Ia berhak mengangkat para bupati di seluruh Madura dengan persetujuan
Sultan Agung. Salah satu diantaranya adalah Pangeran Megat Sari, menantu
Pangeran Cakraningrat I sendiri yang menjadi Bupati Pamekasan. Pangeran
Megat Sari menempati Keraton Mandiraras yang dibangun oleh Pangeran
Ronggosukowati pada tahun 1530.
Untuk mengenang kepahlawanan Pangeran
Ronggosukowati, di tempat peristirahatannya dibuatkan prasasti berupa
kayu berukir. Prasasti ini menggambarkan pembangunan, kepahlawanan,
kebijaksanaan, rela berkorban dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun salah seorang yang pernah membaca prasasti itu adalah seorang
arkeolog berkebangsaan Belanda yang mengarsiteki Museum Trowulan,
namanya Prof. Maglene Watson, pada tahun 1929. Ia sangat kagum dan
terharu atas kebesaran jiwa, patriotisme, kewibawaan dan keluhuran budi
Pangeran Ronggosukowati pendiri kota Pamekasan.
Sebagian Tulisan diatas menyalin dari : Perang Puputan Kerajaan Madura Melawan Kerajaan Mataram » Lontar Madura http://lontarmadura.com/perang-puputan-kerajaan-madura-melawan-kerajaan-mataram/#ixzz2Sc7USSaM
Tidak ada komentar :
Posting Komentar